Macapat Upaya Lestarikan Puisi Jawa

Sebagai upaya melestarikan puisi tradisional Jawa yang disebut Macapat, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta bekerja sama dengan Balai Bahasa Yogyakarta mengadakan Gelar Macapat, Selasa (19/9). Agenda rutin tahunan ini bertepatan dengan Dies Natalis ke-62 UST. “Melalui kegiatan ini diharapkan dapat mengajak generasi muda lebih tertarik mengenal, mempelajari, dan menggali kasusastraan Jawa. Pasalnya, hal seperti ini di era saat ini makin terpinggirkan dan jarang dilakukan,” tutur Ketua Pusat Kebudayaan UST Arif Bintoro Johan MPd kepda KR disela kegiatan. Menurut Arif, sastra Jawa seperti macapat mengandung banyak nilai dan falsafah dalam kehidupan yang sangat tinggi. Terlebih di era globalisasi seperti ini, butuh benteng pertahanan kuat agar generasi muda tidak mudah terjerumus ke hal yang negatif.

Dalam kegiatan ini dibabar ‘Serat Centini’ yang memiliki pesan saat Syekh Amorgraga memberi wejangan kepada istrinya, Niken Tambangrarasa selama 40 hari 40 malam. Wejangan tersebut berkenaan dengan makna hidup, kehidupan berkeluarga serta cara manusia mendapatkan makrifat kepada Tuhan. Sementara itu, macapat ini juga sebagai bentuk pengejawantahan karya kasusastraan klasik Jawa di masa lampau seperti halnya dinasti Mataram. Beragam bentuk karya macapat yang telah dikenal, seperti Serat Wulangreh, Serat Kalatidha, Serat Widhatama, dan lainnya. Selain itu ada banyak jenis tembang macapat, seperti Mijil, Maskumambang, Sinom, Asmaradana, Kinanti, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, hingga Pocung. “Setiap jenis memiliki ciri sebagai yang biasanya mengandung berbagai pesan maupun ajaran tentang falsafah hidup orang Jawa mulai kelahiran, anak-anak, remaja jatuh cinta, dewasa tua hingga ajal,” tukasnya.

Artikel lain